“MENJADI INDONESIA” DI TAHUN 1950-AN: SAUTI, TARI SERAMPANG XII, DAN KEBANGKITAN MELAYU DI SUMATRA UTARA
DOI:
https://doi.org/10.33652/handep.v3i2.111Keywords:
Melayu, Sauti, seni pertunjukan Melayu, dan ‘menjadi Indonesia’Abstract
Dalam sejarah Indonesia, tahun 1950-1963 disebut sebagai periode paling dinamis. Pada masa ini, integrasi nasional yang dilandasi asas Berdikari (akronim dari berdiri di atas kaki sendiri) sebagai “ideologi” utama dalam pembentukan ekonomi nasional, menasionalisasi perusahaan asing, dan menumpas pemberontakan daerah mulai terbentuk dengan jelas. Dalam proses ini, peran penggiat kebudayaan daerah menjadi penting terutama dalam usaha-usaha merepresentasikan daerah di tingkat nasional, sementara pada saat yang sama berhadapan dengan konflik kepentingan antara pusat dengan daerah. Dengan mengambil Sauti, tokoh penggiat kebudayaan Melayu, penelitian ini bertujuan memahami perjuangan Sauti dalam merepresentasikan kebudayaan Melayu sebagai produk “Kebudayaan Nasional”. Dengan pendekatan sejarah, sebagian besar data diperoleh melalui sumber-sumber dokumentasi dan wawancara mendalam. Penelitian ini ingin menunjukkan peran dan kontribusi Sauti yang menentukan dalam penyebarluasan Serampang XII. Namun dalam upaya itu, ia menghadapi tantangan dari sesama orang Melayu dan kesultanan Melayu yang menganggap dirinya sebagai pemilik kebudayaan besar Melayu.
References
Agustono, Budi. 1993. Kehidupan Bangsawan Serdang 1887-1946. Tesis, Prodi Sejarah, FIB, Universitas Gadjah Mada.
Andaya, Leonard Y. 2006. “The Search for the ‘Origins’ of Melayu.” Pp. 315-30 dalam Contesting Malayness Malay Indentity Across Boundaries,disunting oleh T. P. Barnard. Singapore: National University of Singapore Press.
Asnan, Gusti. 2007. Memikir Ulang Regionalisme Sumatera Barat Tahun 1950-An. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia & KITLV Jakarta.
Bahar, Saafroedin. 2018. Etnik, Elite dan Integrasi Nasional: Minangkabau 1945-1984, Republik Indonesia 1985-2015. Yogyakarta: Gre Publishing.
Breman, Jan. 1997. Menjinakkan Sang Kuli: Politik Kolonial, Tuan Kebun, dan Kuli di Sumatra Timur pada Awal Abad Ke-20. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Castle, Lance. 2001. Tapanuli 1915- 1940: Kehidupan Politik Suatu Karesidenan di Sumatra. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Cribb, Robert Bridson. 1990. Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949: Pergulatan Antara Otonomi dan Hegemoni. Jakarta: Grafiti.
Cunningham, Clark E. 1958. The Postwar Migration of Toba-Bataks to East Sumatra. New Haven.
Hamdani, Nasrul. 2011. “Ronggeng, Brass Band dan Seri Indera Ratu: Perkembangan Seni Pertunjukan Kontemporer di Serdang 1889- 1942.” Jurnal Sejarah No. 2:26-33. .
______________. 2012. “Bangsawan, Sejarawan dan Budayawan: Biografi Ringkas Tengku Luckman Sinar.” Haba No. 61:46-52.
Kahin, Audrey. 2008. Dari Pemberontakan ke Integrasi, Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926-1998. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Kathiritamby-Wells, J., and John Villiers. 1990. The Southeast Asian Port and Polity: Rise and Demise. Singapore: Singapore University Press.
Kerkhof, Jasper Van Der. 2005. “Indonesianisasi of Dutch Economic Interests, 1930-1960 the Case of Internatio.” Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde 161(2-3):181-209.
Kleden, Ignas. 1987. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: LP3ES.
Klinken, Gerry van. 2007. “The Combative ‘I’: State Domination and Indonesian Self-Writing. ” The Journal of Life Writing Vol. 4:197–214.
Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Jurusan Sejarah FIB UGM dan Tiara Wacana.
Lindsay, Jennifer dan Maya H. T. Liem (eds.). 2011. Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia 1950- 1965. Jakarta & Denpasar: Pustaka Larasan & KITLV Jakarta.
Lindsay, Jennifer. 2011a. “Ahli Waris Budaya Dunia 1950-1965: Sebuah Pengantar.” Hlm. 1-28 dalam Ahli Waris Budaya Dunia, Menjadi Indonesia 1950-1965, disunting oleh Lindsay, Jennifer dan Maya H. T. Liem. Jakarta & Denpasar: Pustaka Larasan & KITLV Jakarta.
______________. 2011b. “Menggelar Indonesia di Luar Negeri.” dalam Ahli Waris Budaya Dunia, Menjadi Indonesia 1950-1965, disunting oleh Lindsay, Jennifer dan Maya H. T. Liem. Denpasar: Pustaka Larasan & KITLV Jakarta.
Meuraxa, Dada. 1956. “Sauti, Fred Astaire dari Serdang.” Mimbar Umum, Syarahan Mingguan.
Moeljanto, D. S., Taufiq Ismail. 1995. Prahara Budaya: Kilas-Balik Ofensif Lekra/PKI dkk. Bandung:
Mizan. Nurwani. 2003. Serampang XII: Tari Kreasi Yang Mentradisi Pada Masyarakat Melayu Pesisir Sumatera Timur. Tesis, Prodi Seni Pertunjukan, Universitas Gadjah Mada.
Perret, Daniel. 2010. Kolonialisme dan Etnisitas, Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut. Jakarta: KPG-EFEO & Puslitbang Arkenas.
Plomp, Marije. 2011. “Pusat Roman Picisan dan Pusat-Pusat yang Lain: Kehidupan Budaya di Medan 1950- 1958” dalam Ahli Waris Budaya Dunia, Menjadi Indonesia 1950- 1965, disunting oleh Lindsay, Jennifer dan Maya H. T. Liem. Denpasar: Pustaka Larasan & KITLV Jakarta.
Ratna, Nazief Chatib, Tengku Silvana Sinar, Nasrul Hamdani, SP Dewi Murni dan Indra Afkar. 2012. Perjuangan Sultan Sulaiman Shariful Alamshah dari Serdang (1865-1946) Penerima Bintang Mahaputera Adipradana 2011. Medan: Sinar Budaya Group.
Reid, Anthony. 1987. Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan di Sumatera. Jakarta: Sinar Harapan.
Ricklefs, M. C. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-1900. Jakarta: Serambi Ilmu. Simbolon, Parakitri T. 2007. Menjadi Indonesia. Jakarta: Kompas. Sinar,
Tengku Luckman. 1977. Pengantar Etnomusikologi dan Tari Melayu. Medan: Perwira.
Sinar, Tengku Mira. 2011. Teknik Pembelajaran Dasar Tari Melayu Tradisional, disunting oleh M. al Mudra. Medan: Yayasan Kesultanan Serdang dan BKPBM Yogyakarta.
So’uyb, Kartini. 1989. Tari Serampang Dua Belas Karya Sauti Yang Ditata Dengan Akar Tari Melayu Sumatera Utara. Medan: Lembaga Studi Tari Patria.
Supartono, Alexander. 2000. Lekra vs Manikebu, Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965. Skripsi, STF Driyarkara.
Suprayitno. 2001. Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia: Studi Tentang Negara Sumatera Timur 1947- 1950. Yogyakarta: Tarawang.
Vickers, Adrian. 2008. “Mengapa Tahun 1950-an Penting Dalam Kajian Indonesia.” dalam Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, disunting oleh Henk Schulte Nordholt. Jakarta & Denpasar: Yayasan Obor Indonesia.
Wawancara. Makmur Sauti. Medan. 4 Maret 2012.
__________. Tengku Daratul Qamar. Medan, 6 Maret 2012.
__________. Tengku Mira Sinar. Medan, 7 Maret.
__________. Yose. Rizal Firdaus. Medan, 10 Maret 2012.
Downloads
Published
Issue
Section
License
By submitting the manuscript of papers/articles to Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya, the authors are agreed to the following terms stated in copyright and license. Please also read our Publication Ethics dan Screening for Plagiarism.
Copyright
Authors who wish to publish and disseminate their papers with Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya, shall agree to the publishing rights set by Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya. Authors understand that they shall assign publication right to Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya as part of the process upon acceptance for publication. The authors agreed that they will transfer certain copyrights to Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya (authors must transfer the copyright by using the downloaded form HERE). Consecutively, authors still retain the right to use and share their own published articles without written permission from Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya, as long as attributed properly, that the articles are initially published at Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya.
Authors granted Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya these following rights; (1) the right to publish and provide the manuscripts in all forms and media for publication and dissemination, (2) the authority to enforce the rights in the manuscript, for example in the case of plagiarism or copyright infringement.
License
Works in Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya licensed under Creative Commons Attribution license. Users are free to copy and redistribute the material in any medium or format, remix, transform, and build upon the material under these terms; users must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. Users may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses users or their usage.